Mama Lauren di Antara Bayang-bayang Kematian

Add an Image

JAKARTA, KOMPAS.com — Kabar kematian itu datang lebih awal. Entah berupa bisikan atau bahkan bayangan-bayangan yang berkelebat di hadapannya. Kadang terdengar aneh, tetapi di mata Mama Lauren, bayang-bayang itu begitu nyata.

Sebuah pesan yang terdengar mengerikan, tetapi apa mau dikata, Mama Lauren boleh jadi memang diberikan anugerah berlebih oleh Yang Maha Kuasa. Ya, pesan-pesan itu memang diberikannya lebih awal, jauh ketika orang-orang di sekitarnya mengetahuinya.

Kadang terdengar tak masuk akal. Tak heran, banyak orang yang tak percaya dan menyangsikan “kelebihannya” itu. Sejak masih kecil, kelebihan itu dirasakan betul Mama Lauren. Awalnya, tak hanya ia yang menganggap dirinya aneh, orang-orang di sekitarnya pun menganggap hal yang sama.

Lauren kecil bahkan merasakan keterasingan ketika ia dijauhi oleh teman-teman sebayanya. Orang tua mereka melarang anak-anaknya bermain dengan Lauren kecil karena dianggap sebagai anak kutukan karena kelebihannya itu. “Bahkan ada yang menjuluki saya ‘nenek sihir yang naik sapu terbang’!” begitu sempat dituturkannya kepada Majalah Femina.

Kelebihan itu mulai terasa ketika ia duduk di bangku sekolah dasar pada tahun 1939. Kala itu, Perang Dunia ke II baru saja pecah.

Sebuah bisikan tiba-tiba saja didengarnya. Tak terlihat siapa yang mengucapkannya, tetapi hal itu didengar berulang-ulang. Si pemilik suara meminta ia segera keluar kelas. Ia menurutinya, dan menyampaikan kepada sang guru bahwa ada yang membisikinya agar semua segera berkemas dan meninggalkan kelas.

Namun, sang guru tak mengindahkannya. Ia malah memarahi dan menuding Lauren kecil sedang berkhayal. Sambil menangis Lauren kecil pulang menuju rumah. Selang beberapa saat kemudian, ia mendengar kabar sekolahnya telah luluh lantak dihajar bom. Banyak orang tewas saat peristiwa itu.

Kabar kematian itu tak henti-hentinya menghampiri Lauren. Berulang kali isyarat itu hadir, tak hanya sekadar lewat pendengaran, tetapi juga penglihatan (vision).

Peristiwa Bom Bali I tahun 2002, yang menewaskan ratusan orang, itu tak luput dari penerawangan Mama Lauren. Pertanda akan adanya banjir darah itu menghampirinya ketika ia tengah menikmati suasana Pantai Kuta, Bali. Awalnya terasa begitu damai. Namun, dadanya berdetak kencang ketika sebuah bola api merah menyala muncul dari laut dan mendekatinya.

“Saya diam terpaku, mematung, tak sanggup lari. Di depan mata saya, bola api itu lantas meledak dengan dahsyat! Banyak sekali mayat di sekitar saya! Oh, Tuhan. Akan ada bom… Bali!” kenangnya pada suatu hari.

Empat hari selepas pulang dari Bali, kabar mencengangkan itu datang. Bali diguncang bom. Banyak korban berjatuhan, ratusan orang meregang nyawa dan ratusan lainnya luka-luka.

Usaha untuk mengingatkan akan adanya bahaya itu, kata Mama Lauren, pernah ia sampaikan lewat sebuah stasiun televisi lokal agar semua pihak waspada. Namun, ucapannya diragukan. Bahkan ada yang mengatakan sebagai Pulau Dewata, Bali dilindungi banyak dewa-dewi.

Kabar kematian-kematian itu memang terasa dekat di hadapan Mama Lauren. Namun, lagi-lagi ia hanyalah manusia biasa. Ia tak bisa melawan takdir yang kuasa. Ia seolah hanya ditunjuk untuk menyebarkan warta. Orang boleh saja percaya, boleh juga tidak. Setidaknya, ia hanya bisa mengingatkan.

Ini pula yang dirasakan ketika kematian menjemput suami pertamanya, Natakusuma, yang wafat pada 23 Februari 1973. “Kabar” kepergian pria asal Bandung, yang menikahinya ketika usianya masih 20 tahun, itu hadir setahun sebelum Natakusuma meninggal.

Pada Desember 1972, ketika keduanya duduk bersama di beranda rumah. Tiba-tiba ia “melihat” pemandangan yang tidak biasa. Mama Lauren mengaku melihat Nata tertidur pulas. Matanya terpejam dan mulutnya tersenyum damai. Nata tertidur di kursi, lama sekali dan tak bangun-bangun.

Terusik dengan pemandangan yang tak biasa itu, ia bahkan sempat menyarankan agar suaminya memeriksakan kesehatannya. Dasar lelaki, Nata tak mengindahkannya. Kepada Mama Lauren, Nata mengaku sehat walafiat.

Setahun lebih, peristiwa itu benar-benar nyata. Lelaki yang pertama kali ditemuinya saat kuliah di Universitas Leuven, Belanda, awal tahun 1950-an itu, mengembuskan napas terakhirnya, persis sama dengan apa yang pernah dilihatnya.

Apa yang dimiliki Mama Lauren tentu bukan perkara mudah untuk dijalani. Ya, bagaimana kabar kematian itu datang lebih awal dan menari-nari dalam benaknya. Jika ia punya kemampuan untuk menghentikan takdir, mungkin saja ia akan melakukannya. Namun, tetap saja Mama Lauren adalah manusia biasa. Meski diberi kelebihan, toh ia hadir hanya sebagai pengingat.

Seperti dikatakan Permadi, paranormal yang juga politisi itu, Mama Lauren adalah sosok juru terawang yang jujur dan apa adanya. Ia tak segan-segan mengungkapkan penerawangannya meski terasa pahit sekalipun.

Kini, Mama Lauren, perempuan kelahiran Eindhoven, Belanda, 23 Januari 1932, itu telah beristirahat dengan tenang di tempat peristirahatannya yang terakhir di TPU Menteng Pulo, Jakarta Selatan. Ratusan warga dan kerabat turut mengantarkan kepergiannya. Selamat jalan Mama Lauren…. (EH)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s